Rabu, 16 Maret 2011

RESENSI: Neo-atheis dalam Pluralisme Agama

Oleh : Anwar Ma'rufi

Judul buku : Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perennial
Pengarang : Komaruddin Hidayat Dan Muhamad Wahyuni Nafis
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit ulang : 2003
Tebal buku : 248 halaman


Sungguh membingungkan, ekspresi dan artikulasi peran agama justru melahirkan suasana mencekam, tidak ramah dan selalu mengundang konflik dan permusuhan. Suasana mencengkam ini terjadi di tengah-tengah manusia beragama, umat manusia yang mempunyai tujuan hidup yang jelas, memeluk dan menjalankan perintah agama yang menawarkan jalan kesucian, keselamatan dan perdamaian serta kebajikan bagi manusia. Kenyataan malah berbanding terbalik ketika melihat kenyataan sejarah yang mencoreng kemuliaan citra agama dan citra kemanusiaan. Konflik ini terjadi baik antar pemeluk agama-agama secara eksternal maupun konflik yang terjadi pada hubungan intra-umat beragama.


Ingatan kita masih segar ketika mengenang peristiwa perang salib pada abad x, sebuah konflik fisik yang telah menumpahkan darah baik pada pihak umat Kristen maupun umat Islam. Kontak antar pemeluk agama yang berciri konfliktual ini oleh para orientalis dipopulerkan dengan istilah jihad atau holy war, sesuatu istilah yang paradoksal dan tidak enak didengar bagi telinga umat Islam. Konflik berdarah juga melanda di Poso-Indonesia pada tahun 2007, konlfik yang terjadi akibat kecemburuan social antara umat Kristen dengan Umat Islam. Konflik semacam ini juga terjadi dalam intra-umat beragama, entah itu pada umat Kristen ataupun pada umat Islam. Agaknya peristiwa berdarah semacam ini yang membuat Friderich Nietzsche maupun Mao Tze berkata bahwa "Agama itu racun". Menurut Nietzche, kematian Tuhan akan mendatangkan fase sejarah manusia yang lebih baru dan lebih tinggi. Ia menganjurkan agar manusia membebaskan dirinya dari bayang-bayang Tuhan. Manusia, menurut Nietzche, harus menjadi Tuhan agar ia bisa menentukan nasibnya sendiri.
Konflik yang menodai kemuliaan misi agama ini lah yang nampaknya mendorong Komaruddin Hidayat dan Muhamad wahyuni Nafis untuk menulis buku dengan judul "agama masa depan perspektif filsafat perennial". Tujuannya agar terjadi kerukunan intern-umat beragama dan antar umat beragama sehingga akan terjadi keseimbangan dzikir dan piker, psikis dan fisik, jasmani dan rohani, individu dan social, keselamatan dunia dan akhirat, tetap terjaga, dan selalu terhias dalam segala perilaku keseharian (P. 221-222). Komaruddin Hidayat lahir di Magelang, jawa tengah, 18 Oktober 1953, alumni pesantren modern pabelan dan al-Iman magelang. Sedangkan Muhamad wahyuni Nafis lahir di Tangerang jawa barat 18 Pebruari 1967. alumni pesantren modern Darel-Qalam. Yang pertama adalah termasuk tokoh liberal produktif, sekarang Mas Komar, sapaan akrabnya menjadi Direktur Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun yang kedua, Muhamad wahyuni Nafis sejak tahun 1992 mengabdi sebagai staf Yayasan Wakaf Paramadina Jakarta.
Buku ini mencoba mengetengahkan konflik antar agama yang berkepanjangan dan mungkin sudah mendarah daging dan menjadi dendam kesumat. Sengaja buku ini ditulis menggunakan perspektif "filsafat perennial". Ini adalah sebuah filsafat yang menurut Budy Munawar Rachman dipandang bisa menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalankan hidup yang benar yang rupanya menjadi hakikat dari seluruh agama-agama dan tradisi-tradisi besar spiritualitas manusia. Dengan filsafat inilah Komarudin dan Afis yakin para pembaca bisa memahami kompleksitas perbedaan-perbedaan yang ada antara satu dan lain tradisi dan agama yang selama ini banyak dipikirkan oranng bahkan diantaranya adalah ahli agama-agama, bahwa yang ada dalam realitas agama-agama hanyalah perbedaan-perbedaannya (P. 7-8). Selain Komarudin Hidayat, Imanuel Wora misalnya dalam bukunya “Perennialisme, Kritik Atas Modernisme dan Posmodernisme” ia menawarkan filsafat perennial sebagai jawaban atas segala bentuk krisis kehidupan yang kompleks dan bersifat global yang kemudian ia sebut dengan krisis lingkungan (environmental crisis), bedanya Imanuel menggunakan filsafat perennial untuk menetralisir krisis peradaban manusia modern sedangkan Komarudin Hidayat menggunakannya untuk mendewasakan cara beragama dalam tingkah laku sosial.
Menurut Komar dan Afis, filsafat perennial tidak dipahami sebagai paham atau filsafat yang berpandangan bahwa semua agama adalah sama –suatu pandangan yang sama sekali tidak menghormati religiositas yang partikular. Akan tetapi filsafat perennial yang berpandangan bahwa Kebenaran Mutlak (the Truth) hanyalah satu, tidak terbagai, tetapi dari yang satu ini memancar berbagai "kebenaran" (truths) sebagaimana matahari yang secara niscaya memancarkan cahayanya. Hakikat cahaya adalah satu dan tanpa warna tetapi spectrum kilatan cahayanya ditangkap oleh mata manusia dalam kesan yang beraneka warna (P. 45). Menurutnya lagi, meskipun hakikat Agama yang benar itu hanya satu, tetapi karena agama muncul dalam ruang dan waktu secara tidak simultan, maka pluralitas dan partikularitas bentuk dan bahasa agama tidak bisa dielakkan dalam realitas sejarah. Dengan ungkapan lain, pesan kebenaran yang Absolut itu berpartisipasi dan bersimbiose dalam dialektika sejarah (P. 46).
Komarudin dan Afis juga menguraikan bahwa sebenarnya doktrin tentang tauhid dalam Islam, menurut pendukung perennialis, tidak secara eksklusif esensi pesannya hanya milik Islam, melainkan itu adalah hatinya setiap agama. Umat Islam telah mengenal filsafat perennial jauh sebelum dipopulerkan oleh Steuchus dan Leibnitz lewat karya Ibn Miskawaih (932-1030), al-Hikmah al-Khalidah atau al-Hikmah al-Laduniayah (javidan khirad dalam bahasa Persia) (P.59). Mereka juga mengatakan bahwa untuk menjadi seorang yang monoteis bias saja seseorang memperoleh tidak harus melalui teks-teks Kitab suci melainkan bias juga melalui penalaran, pengalaman dan perenungan hidup. Dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Ibnu Tufail, dalam romannya Hayy ibn Yaqzhan, yang secara cerdas memberikan ilustrasi bagaimana seorang anak yang tinggal di sebuah pulau terpencil ternyata dengan ketajaman dan kejujuran intelektualnya pada akhirnya bias sampai pada keyakinan adanya tuhan dan keabadian roh (P. 72).

Di dalam bukunya juga diuraikan bahwa Tuhan itu memang Yang Absolut, tapi mengingat manusia adalah makhluk histories, maka nama-nama Tuhan juga muncul. Oleh karena manusia lahir dan berkembang dalam pluralitas etnis, budaya dan agama, maka kita jumpai pula pluralitas pemahaman, penghayatan dan penamaan Tuhan. Dalam sejarah pemikiran manusia, seperti yang ditegaskan oleh Armstrong, sejak mula pertama umat manusia sudah mampu menangkap tentang adanya satu kekuatan yang mengatasi dan maha kuat, yang diyakininya telah menciptakan dan menguasai kehidupan umat manusia (P. 84). Meminjam istilahnya Rudolf Otto perasaan itu yang dinamakan dengan "numinous" dan pada akhirnya melahirkan berbagai pemahaman dan pemikiran serta visualisasi dan personifikasi tentang Tuhan. Dengan demikian, Tuhan akhirnya mewujud dengan banyak nama dan wajah (P. 97).
Walaupun demikian adanya, tentang sejarah penamaan Tuhan dan personifikasinya, Komarudin dan Afis menambahkan, bahwa pluralitas Tuhan dalam bentangan sejarah panjang umat manusia harus dipahami hanya sekedar nama. Tidak dalam pengertian esensi (P. 96). Pemikiran seperti ini juga terjadi pada agama-agama besar Dunia; Yahudi, Kristen, dan Islam yang biasa disebut Abrahamic Religions. Namun, tambahnya, pada zaman modern, pemahaman tentang adanya kekuatan transcendental itu secara gradual semakin terkikis. Ini terjadi karena banyak manusia tidak lagi memilliki kesadaran bahwa hidupnya tidak hanya dilingkungi oleh sesuatu yang bisa dilihat dan dipahami saja, melainkan juga oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat dan tidak bisa dipahami. Budaya saintisme mengajarkan manusia hanya untuk memperhatikan dan mengetahui gejala fisikal dan material saja (P. 97).
Dengan adanya pemahaman bersama bahwa Kebenaran Mutlak (the Truth) hanyalah satu, tidak terbagai, tetapi dari yang satu ini memancar berbagai "kebenaran" (truths). Komarudin dan Afis mendambakan akan terjadi dialog dalam keberagamaan. Gagasan ini juga sudah disuarakan oleh Muhammad Arkoun yaitu sebuah dialog antaragama yang mencerahkan. Tidak memandang “yang lain” sebagai musuh yang sesaat dan harus diselamatkan. Ia juga telah terlibat dalam dialog antaragama, khususnya Muslim-Kristen, selama 20 tahun lebih. (p. 171) Serta memfokuskan perhatiannya pada upaya untuk tidak saja memadukan unsur yang paling mulia dalam pemikiran Islam, dan unsur yang paling berharga dalam pemikiran Barat modern. Tak terkungkung oleh pemahaman-pemahaman klasik model Abad Pertengahan (Muhammad Arkoun: 2001).
Dan pada akhir buku ini, Komarudin dan Afis memprediksikan agama masa depan dalam perspektif filsafat perennial bukanlah agama yang terpisah dan berbeda samasekali dari agama-agama tradisional. Bahkan sikap keberagamaan yang tulus akan lebih mudah dijumpai pada masyarakat tradisional ketimbang masyarakat modern. Secara epistemologis, agama masa depan menolak paham absolutisme, melainkan memilih apa yang oleh Swidler disebut deabsolutizing truth atau yang oleh Seyyed Hossein Nasr diistilahkan sebagai relatively absolute. Dikatakan absolut karena setiap agama mempunyai klaim dan orientasi keilahian, tetapi semua itu relatif karena klaim dan keyakinan agama itu tumbuh dan terbentuk dalam sejarah. (P. 195-196)
Pembaca akui, dengan membaca buku ini seolah-olah kita dibawa ke dunia yang asing, yaitu dunia pemikiran yang serba bebas. Pada walanya Komarudin dan Afis menyakinkan pembaca bahwa dalam pembahasan buku ini tentang sebagai atau filsafat yang berpandangan bahwa semua agama adalah sama, tetapi filsafat yang berpandangan bahwa Kebenaran Mutlak (the Truth) hanyalah satu, tidak terbagai, tetapi dari yang satu ini memancar berbagai "kebenaran" (truths). Dengan pernyataan itu sama saja dengan menyuarakan paham pluralisme. Dan pada akhirnya secara tidak terasa akan ada pendangkalan kualitas keimanan. Lebih jauh lagi, paham yang telah dipaparkan di atas akan membawa manusia pada tingkat melepas keabsolutan Tuhan agar bersih dan suci dengan pemikiran manusia yang relative dan terbatas. Dalam kondisi seperti ini bukan tidak mungkin akan terjadi paham ateisme baru sebagaimana yang terjadi di Barat. Paham ateisme bukan berarti tidak mempercayai adanya Tuhan -karena seperti yang dipaparkan secara gambalang oleh Komarudin dan Afis bahwa pada dasarnya manusia memiliki bakat bertuhan atau beragama- melainkan menyingkirkan Tuhan dari urusan kehidupan dengan meninggalkan nama-nama Tuhan atau visualisasinya serta personifikasinya yang berupa simbol-simbol. Inilah yang dinamakan dengan "neo-atheis".

Pengunjung